Nyamuk Nakal

“Nyamuk nyamuk yang nakal, serta kecoa liar

Jadi saksi kita berdua”

Demikian sepenggal syair lagu Doel Sumbang yang pernah ngetop waktu aku SD dulu. Aku kembali terkenang lagu ini saat aku merasakan nggak enaknya dikerubungi nyamuk satu kampung di Cilegon. Dalam konteks ini, si nyamuk tidak lagi nakal, tetapi sudah biadab.

Kejadian ini bermula dari ajakan adikku yang tinggal di Bandung. Dia punya tetangga yang orangtuanya tinggal di Cilegon dan mengajak untuk menginap di sana. Rencananya sih sekalian main ke Anyer.

Berhubung tidak ada acara pada tanggal 1 Januari, maka aku pun mengiyakan. Bagaimana kondisi rumah teman adik saya, tak terlalu kupikirkan. Yang penting coba dulu. Kalau betah teruskan, kalau tidak ya pulang ke Jakarta. Gitu aja kok repot.

Setelah pulang dari makan malam di Kelapa Gading dan merayakan malam tahun baru di rumah sambil ditemani petasan tetangga yang mengganggu tidur hingga pukul 01 pagi, kami bangun pagi dan berkemas. Kami berangkat dari Jakarta pukul 09 pagi dengan kondisi jalan yang sangat lengang. Tol dalam kota yang biasanya macet, nyaris seperti kuburan. Sepi banget….

Satu jam 45 menit. Tibalah kami di pintu Cilegon Barat dan langsung masuk kota mencari mesjid agung sebagai patokan arah. Setelah melakukan kontak via hp, ketemulah rumah tersebut yang tidak jauh dari mesjid.

Rumah ini memiliki langit-langit yang tinggi sehingga udara Cilegon yang panas nyaris tidak terasa. Sebagai gantinya, angin semilir mengalir sejuk di dalam rumah. Karena itu, di rumah ini tidak dipasang AC.

Setelah lohor kami bersiap menuju Anyer. Perjalanan menuju Anyer ternyata berbeda dengan perjalanan Jakarta-Cilegon yang lancar. Menjelang lewat di depan pabrik kawasan industri, lalu lintas seperti terhenti. Arah dari Anyer memang sedikit kosong, tetapi polisi tidak menjadikannya satu arah.

Tiba-tiba, tuan rumah mengarahkan kami ke jalan memutar. Masuk ke sebelah kiri, melewati rel kereta, kami menyusuri jalan sepi, berliku dan kadang naik turun. Rupanya, ada juga perbukitan di sini. Selama ini aku menyangka jalan di pinggir pantai Anyer adalah satu-satunya jalan. Jarak yang seharusnya kami tempuh 10 km bertambah menjadi lebih dari 20 km.

Kami masuk ke jalur utama setelah lewat pasar Anyer. Dari sini rupanya masih macet. Untunglah tempat tujuan tidak jauh lagi, yakni Cikoneng. Sayang, pantainya berkarang. Di depan pantai dipasang tulisan,”Dilarang Berenang”. Lho, jadi ngapain aja ke sini?

Pemandangan gunung Krakatau dan anaknya sih oke banget. Angin bertiup cukup kencang. Tikar-tikar yang tidak diduduki bisa beterbangan dibuatnya.

Untunglah tidak jauh dari situ masih ada sedikit pantai yang agak landai. Pantai ini cukup berbahaya karena meskipun di pinggir,  kedalamannya bisa mencapai sepinggang orang dewasa. Ombaknya juga relatif tinggi sehingga saat naik bisa menutupi kepala.

Akibatnya, anak-anak tidak leluasa bermain. Akhirnya, mereka hanya bermain pasir. Itupun orangtua harus ekstra waspada mengawasi karena ombak bisa datang dengan tiba-tiba.

Magrib kami pulang ke Cilegon. Di rumah sudah tersedia pindang selar, sambal udang pete dan nasi sumsum yang menjadi ciri khas Serang (belinya dari Serang). Nasi yang sudah dicampur sambal dibungkus dalam daun pisang. Kemudian dibakar seperti dipepes. Pada setiap bungkus ada dua potong sumsum sapi. Rasanya sih biasa saja, tetapi kalau belum pernah ya penasaran aja untuk mencobanya.

Tuan rumah juga menyediakan duren. Berhubung sudah terbisa dengan duren montong yang pasti dan standar, aku tidak terlalu antusias lagi memakan duren biasa. Menurutku makan duren biasa atau duren kampung lebih banyak judinya. Jarang yang sukses. Dari tiga yang dikupas, paling-paling satu yang bagus.

Kalau duren montong kan pasti sukses. Tidak pernah gagal. Semua manis, bijinya kecil dan rasanya standar.

Setelah makan, keyboard yang dibawa iparku dipasang beserta sound systemnya. Maka, bernyanyilah semua sambil berjoget. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Maka, masing-masing orang mencari posisi uenak untuk tidur.

Mula-mula aku tidur bersama ponakanku di kasur yang dihampar di depan tv. Tapi, malam itu batukku kumat, tidak bisa dihentikan. Supaya tidak mengganggu mereka, aku berpindah ke kursi. Jadilah aku di sini sendiri menjadi mangsa dan keroyokan nyamuk satu kabupaten. Nyamuk ini terus bernyanyi di telingaku seolah menagih darah yang menjadi jatah mereka.

Sambil terbatuk-batuk sesekali aku membuka facebook lewat hp. Kutulis di statusku,”Nggak bisa tidur. Nyamuk di Cilegon segede gajah”.

Seorang teman komen, “Di Serang dan Cilegon memang terkenal tuh, Her”. Wah, ternyata telah lewat pukul 01 masih ada teman yang belum tidur juga, meski mereka bukan bagian dari warga Nocturno.

Pukul 03.00 pagi, batukku berhenti. Akupun tertidur pulas hingga bangun subuh agak kesiangan. Sisa-sisa pertempuran tadi malam masih jelas terbaca di mukaku, tangan dan kaki. Bahkan sampai postingan ini ditulis bentol-bentol masih ada di sekitar dagu. Ah, nyamuk…

About these ads
Explore posts in the same categories: Diary

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

11 Comments on “Nyamuk Nakal”

  1. nh18 Says:

    Aku lebih tertarik membaca …
    Duren = Judi …
    Halah … istilahnya serem amat bang … hahahaha …

    Eniwei …
    Itu nyamuk perempuan apa laki bang …?
    (maapkomenasal.com)

  2. nh18 Says:

    Yang penting Pertamax …

  3. nh18 Says:

    Balas Dendam …
    Pertamax Hat Trick …
    HUahahahaha …

    Salam saya Bang …

  4. Oemar Bakrie Says:

    wuah seru bener liburannya … habis dari Pangandaran (pantai selatan Jabar) langsung ke Anyer (pantai barat) …

    Nyamuknya sebenarnya cuma satu, yg lain itu temen-temennya … hehehe :)

  5. Ikkyu_san Says:

    hihihi aku juga ketawa aja baca status abang di FB.
    (aku sempat komentar juga kan ya hehehe)

    bukannya bulan-bulan musim penghujan memang
    bahaya di pantai itu bang? Atau hanya di tempat itu
    saja yang dilarang berenang?

    Emang abang ngga bawa autan atau apa gitu?
    atau nyamuk sana emang ndableg ya?

    EM

    Iye, Ime-chan sempat komen juga.
    Di Anyer memang banyak tempat yang berkarang, sehingga tidak boleh berenang.
    Tetapi, ada juga yang berpantai landai dan berpasir. Di sini boleh berenang, tapi kudu hati-hati di musim hujan kayak gini.
    Btw, aku udah olesin autan, tapi nyamuknya benar2 ndableg deh…

  6. vizon Says:

    aku mau komen juga soal duren…
    beberapa waktu yg lalu, aku dan rahmawan juga makan duren di pinggir jalan di kota baru, jogja. aku cukup menikmati duren itu, tapi rahmawan sepertinya tidak, dia sudah terbiasa makan montong, jadi duren lokal dianggap tidak berkesan. dg kejadian itu, aku bertekad tidak akan pernah mencoba montong, biar lidahku tetap mengetahu kalau duren lokal adalah yg terenak, hehehe…

    soal nyamuk…
    aku yakin banget nyamuknya itu cewek semua, makanya mereka ngefans berat sama ente, huahaha….. :)

    VZ

  7. jeunglala Says:

    Semua berjoged?
    Semua?
    SEMUA??
    Termasuk Abang, kah? :)

    Eniwei.. Lala ndak suka duren! Sampai sekarang masih terheran-heran; bagian mananya duren sehingga dibilang rugi bener orang yang nggak suka makan buah duren.. hehehe…

    Semua berjoged, La. Tau nggak siapa yang mulai joged? Ponakan gue si Sasa yang baru 5 tahun. Sasa ini sebenarnya pendiam, tidak banyak ngomong. Dulu waktu kecil sering sakit2an dan diopname. Dia tidak bisa minum ASI dan susu sapi. Habis minum susu tersebut biasanya dia langsung muntah. Sebagai gantinya dia minum susu kedelai. Perutnya sensitif banget. Kalau salah makan bisa mencret.
    Eh, sekarang dia sudah sehat dan gembul. Semua makanan yang dimintanya akan dipenuhi oleh mamanya.
    Kemarin, waktu dimainkan lagu jablai, Sasa langsung maju ke depan dan berjoged. Semua orang pada ngakak dan terdorong untuk ikut berjoged.
    Malam itu, Sasa memang luar biasa…

  8. edratna Says:

    Memang pantai Anyer kadang berbahaya, teman si sulung saat ada acara Fak Ilmu Komputer UI di Anyer pernah tenggelam terseret ombak.

    Wahh…tapi akhirnya nyamuknya kalah kan…karena bang Hery bisa tidur nyenyak.

    Perutku berarti belum standar, yang namanya duren bisa jenis apa aja, tak harus Montong.

  9. mang kumlod Says:

    Hi Bang,
    Kapan-kapan saya ajak makan dureng montongnya ya (montong meuli hehehehe…)

  10. wilbertsitu Says:

    Nyamuknya penasaran mas, pingin merasakan darah baru yang belum pernah dirasakan selama ini.

  11. andaikujadiawan Says:

    This song used to be one of my beloved late brother’s favorite. it brings back all the bittersweet memory we had when we were younger. T_T


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: