Negeri 3 Imperium

Posted May 13, 2015 by Hery Azwan
Categories: Travel

Tags: , , , , , , , , , ,
Mengunjungi Turki merupakan keinginan lama saya yang terpendam. Keinginan pertama muncul setelah membaca buku berjudul ‘Istanbul’ karangan Orhan Pamuk. Buku ini banyak memberikan insight mengenai seluk beluk Istanbul. Suasana selat Bosphorus dengan kapalnya tergambar jelas. Juga, diceritakan ritual agama Islam yang kini hanya dijalankan oleh segelintir warga Turki, terutama oleh sebagian besar kalangan bawah. Sementara, kalangan elit tidak lagi mempraktekkan ritual Islam. Sebagian besar mereka mempraktikkan sekularisme yang dirintis oleh Mustafa Kemal Ataturk. 

 

Keinginan kedua muncul setelah adik ipar saya pulang dari umroh plus Istanbul. Saya dikasih oleh2 berupa T-Shirt bergambar trem dan bertuliskan Istanbul. Puhhh, sangat menggoda.
Keinginan ketiga muncul ketika teman istri saya yang baru menamatkan PhDnya dari Belanda menceritakan betapa indahnya Turki di antara negara Eropa lainnya. Selain itu, banyak peninggalan sejarah di sana.
Keinginan keempat muncul saat menyaksikan film 99 Cahaya di Langit Eropa hasil adaptasi novel Hanum Rais. Penggambaran yang indah di sekitar selat Bosphorus membuat hasrat ini semakin menggebu, pengen segera terbang ke sana.
Akhirnya, keinginan terpendam ini terwujud tanggal 27 April s.d. 7 Mei 2015 lalu. Kami berlima (istri saya Yuli beserta 2 saudaranya Teh Evy dan Temy, saya dan suami kakak ipar saya Aa Ferry) berkesempatan mengunjungi Turki: Istanbul, Kusadasi, Selcuk, Pamukkale, dan Cappadocia.
Bagi kalangan awam Turki sering dianggap sebagai representasi negara Islam. Hal ini cukup logis karena dulu Turki pernah diperintah oleh imperium besar di dunia Ottoman selama 5 abad. Karena itu, tidak heran kalau Istanbul sering dimasukkan sebagai paket tambahan dalam perjalanan umroh. Padahal, sejatinya kini Turki adalah negara sekuler, bukan negara berdasarkan agama Islam. Ini terjadi sejak tahun 1923 saat republik Turki berdiri dan kekhalifahan Ottoman dideklarasikan sebagai lembaga terlarang tahun 1924.
Persiapan
Awalnya kita berencana berangkat dengan travel dari Indonesia, tapi 10 hari sebelum hari H travel membatalkan keberangkatan karena kuota peserta tidak tercapai. Kuota 15 orang hanya terisi 10 orang. Masih kurang 5 orang lagi.
Kami menduga2 pembatalan ini mungkin karena pemberitaan mengenai ISIS yang sangat gencar di media. Sempat juga terpikir kami menunda lebih dulu keberangkatan sambil menunggu keadaan aman. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya kami memutuskan untuk berangkat sendiri dengan kombinasi menggunakan travel lokal di Turki. 
Tiket kami pesan secara on line dari Turkish Airlines seharga $971 per orang. EVisa juga kami beli langsung dari website seharga $25 per orang. Memang kita bisa memperoleh visa secara on arrival di Istanbul tapi khawatir akan antri panjang. Jadi pilihan apply eVisa secara online sangat disarankan.
 Ada yang perlu diperhatikan dalam mengurus eVisa ini. Data yang di paspor harus sama benar dengan data di visa. Jika data berbeda, nanti bisa ditolak di imigrasi Turki. Karena harus mengurus eVisa untuk 5 orang sekaligus, saya jadi terburu2 dan kurang hati2. Akibatnya, ada 3 evisa yang salah, yakni nama saya sendiri kurang satu kata, dan tempat lahir kakak ipar saya di Cianjur, padahal harusnya di Bandung. 2 eVisa terdeteksi lebih awal ketika belum berangkat. 1 eVisa terdeteksi di bandara Soekarno Hatta saat check in oleh petugas. Untunglah petugas tadi sangat baik. Solusinya, kami membuat eVisa baru lewat iPad dan setelah proses selesai kami mengirimnya ke email petugas tersebut untuk diprint. Terima kasih untuk Mbak Tiara Alfianita dan Mas Herman Junaedi atas kebaikannya yang tak terkira.
O, ya, selama di Turki kami mengikuti paket 9 hari 8 malam yang dirancang Travelshop Turkey dengan biaya €849 per orang double dan €839 per orang triple. Perjalanan ke Kusadasi, Pamukkale dan Cappadocia menggunakan pesawat sehingga perjalanan lebih nyaman.
Perjalanan ke Turki direncanakan 14 jam dengan transit di Singapura. Lucunya, tidak ada waktu luang di Changi untuk shopping karena setelah turun penumpang harus langsung masuk ke Gate dengan pemeriksaan ulang. Sebuah proses yang mubazir dan menyusahkan penumpang asal Jakarta.
Di pesawat ada 3 kali makan: 1 makanan ringan, 2 makan berat. Makan pertama, sesaat setelah lepas landas dari Jakarta, penumpang hanya diberi sandwich mini. Makan kedua, setelah lepas landas dari Changi penumpang diberi makanan ala Turki. Keju, tomat, yoghurt, buah zaitun, menjadi ciri khas. Makan ketiga, menjelang mendarat di Istanbul. Menunya telur orak-arik dan sosis ayam, plus roti oles.
Selama di pesawat aktivitas yang bisa dilakukan antara lain menonton film. Film yang berhasil saya tamatkan yaitu ‘Life of Pi’ dan ‘Gravity’. Kedua film ini merupakan film yang penuh makna hidup. Film pertama berkisah tentang perjuangan seorang pemuda India yang bertahan hidup di tengah lautan bersama seekor harimau bengali. Yang menarik, kisah pencarian jati diri sang anak akan kebenaran. Dia mempelajari dan melakoni berbagai ritual agama secara bersamaan. Misalnya, setelah salat ala Islam, dia berdoa sebelum makan ala Kristen. Akhirnya sang ayah mengarahkannya agar jangan memeluk banyak agama, tetapi lebih kepada penggunaan rasio atau akal.
Film kedua sangat menarik karena yang main sepanjang film hanya 2 orang, yakni Joddie Foster dan George Clooney yang berperan sebagai astronot. Mereka bertugas memperbaiki wahana antariksa, namun akhirnya harus terpisah karena debu angkasa yang menghantam wahana mereka. Perjuangan bertahan hidup di angkasa ini sangat mendebarkan. Di ruang tanpa batas ini tidak jelas lagi mana barat mana timur, mana atas mana bawah, mana siang mana malam. Sungguh adegan yang sangat mengguncangkan jiwa.
Tiba di Istanbul

Gita Remaja

Posted April 22, 2015 by Hery Azwan
Categories: Diary

Ini kliping liputan media pada acara televisi yang nge-hits di tahun 90-an, Gita Remaja. 

  

Calysta Skincare Buka di Sukabumi

Posted March 30, 2015 by Hery Azwan
Categories: Career, Vacancy

Tags: , , , , ,

Setelah eksis dengan 6 outletnya, kini Calysta Skincare, klinik kecantikan yang berdiri tahun 2011, berencana membuka cabang ke-7 di Sukabumi. Syukur alhamdulillah, sejauh ini Calysta dapat diterima pelanggan. Kota yang sudah dilayani Calysta adalah sbb: Bandung (Ketapang dan Margacinta), Kuningan, Garut, Tasikmalaya, dan Jakarta (Pulomas). Lompatan spektakuler dilakukan cabang Garut yang baru berumur setahun, tapi omsetnya hampir menyamai omset cabang Ketapang, sebagai cabang yang pertama berdiri. Ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap Calysta  oleh pelanggan di cabang baru semakin cepat.

Atas dibukanya Calysta di Sukabumi, manajemen membutuhkan tim untuk mengisi posisi sbb:

1. Dokter umum

2. Apoteker

3. Asisten Apoteker

4. Perawat

5. Terapis

Lamaran dan CV dapat dikirim via email ke hrd.calystaskincare@gmail.com paling lambat tanggal 15 April 2015.

Lowongan Kerja di Sukabumi

Posted March 29, 2015 by Hery Azwan
Categories: Career, Diary, Vacancy

Tags: , , , , , , ,

  

Business Plan for SME

Posted January 15, 2015 by Hery Azwan
Categories: Book Discussion, Management

Tags: , , , ,

2015/01/img_3212.png
Anda pengen berbisnis, tapi tidak tahu mulai dari mana…
Anda sudah punya bisnis, dan ingin mengembangkannya secara lebih profesional…
Saya memberikan free eBook berjuduk Business Plan for SME.
Silakan diunduh dari link berikut
https://docs.google.com/file/d/0B__0QCz68_NqVWVJd1dJWWZfcHM/edit?usp=docslist_api

Free eBook

Posted January 9, 2015 by Hery Azwan
Categories: Book Discussion, Career, Education, Management, Self Development

Tags: , , , , ,

Bagi Anda yang bergerak di bidang penjualan, baik sebagai salesman, supervisor atau sales manager, silakan unduh free eBook persembahan dari saya dengan mengklik link berikut https://docs.google.com/file/d/0B__0QCz68_NqUHUxcXlSZFBsR2c/edit?usp=docslist_api
Bagi perusahaan yang membutuhkan pembuatan buku saku untuk salesman mereka, bisa menghubungi saya.

Tour de Malaysia (2)

Posted June 17, 2014 by Hery Azwan
Categories: Travel

Tags: , , , , , , , ,

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.10. Setiba di kamar hotel Citin Seacare, aku segera mengambil wudlu dan menunaikan salat zuhur dan ashar secara jamak qasar. Waktu salat di Kuala Lumpur, termasuk Singapura, lebih lambat satu jam dibanding Jakarta atau Bandung. Waktu salat di Kuala Lumpur sbb: Subuh 05.30, zuhur 13.00, ashar 16.30, magrib 19.00, isya 20.30. Hal ini terjadi karena Malaysia dan Singapura mengikuti Waktu IndonesianTengah (+8 GMT). Kebijakan zona waktu biasanya bersifat politis, sehingga tidak heran kalau banyak perubahan zona waktu sepanjang sejarah suatu bangsa. Singapura, misalnya pernah mengadopsi zona Tokyo (+9 GMT) saat masih dijajah Jepang tahun 1942-1945. Kalau kita tarik garis lurus dari Bangkok ke Jakarta akan terlihat kalau Kuala Lumpur dan Singapore masih termasuk dalam zona yang sama. Read the rest of this post »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers