Taksim Square

Posted July 30, 2015 by Hery Azwan
Categories: Travel

Tags: , , ,

Sekitar pukul 09.30 waktu Istanbul kami tiba di hotel Icon yang berada di kawasan perbengkelan dan show room mobil. Kalau tidak karena dibawa travel biro, pasti tak banyak pelancong yang datang ke sini. Abdullah membantu kami check in. Semua passport dikumpulkan. Pengennya kami bisa langsung rebahan di kamar, mandi dan ganti pakaian. Tidur semalaman di pesawat dengan posisi duduk membuat badan pegal-pegal. 
Tapi apa lacur, kamar masih penuh sehingga kami harus menunggu hingga pukul 12.00. Daripada menunggu selama ini, akhirnya kami memutuskan untuk pelesir lebih dulu ke Taksim Square. Untunglah ada shuttle milik hotel yang mau mengantar kami ke Taksim. Jalan ke Taksim rupanya sangat mendaki sekaligus macet. Meskipun jalannya hanya cukup untuk dua mobil berselisih, tapi sopir dengan sigap meliuk-liuk. Setelah melihat jalan macet dan kendaraan tidak bergerak dalam waktu lama, sopir memutuskan untuk mencari jalur alternatif. Tadaaa…. Akhirnya kami tiba di Taksim Squrae, lapangan yang sangat terkenal di Istanbul, tempat demonstrasi sering dilakukan.
Suasana di Taksim tidak terlalu ramai karena para karyawan sudah masuk kantor. Penjual Syimit menyebar di setiap pojok. Burung merpati bergerombol mencari makanan. Penjual makanan burung menawarkan dagangannya kepada kami. Fokus pertama kami berfoto dengan latar belakang tugu peringatan perang kemerdekaan Turki yang dipimpin Ataturk, presiden pertama Turki. Lalu, tak lupa kami membeli dua porsi makanan burung dara. Sungguh jinak, burung dara mendekati kami tanpa rasa takut. 
Setelah berfoto kami melakukan orientasi lapangan. Yayang mencari info menuju Hardrock Cafe untuk memenuhi pesanan temannya, TShirt Hardrock Cafe Istanbul. Teh Evy mencari toko yang layak untuk dilanggani. Di sekitar Taksim Square memang banyak terdapat hotel, restauran, cafe dan toko. Keriuhannya mungkin bisa disamakan dengan kawasan Blok M di Jakarta. Jika Anda berwisata ke Istanbul, maka Kawasan seputar Taksim Square ini menjadi pilihan utama setelah kawasan Sultanahmet yang lebih mahal. Bahkan, bus HAVAS dari bandara Ataturk berhenti di seputar Taksim Square.
Aku mencari warung kebab yang tampilannya begitu segar, karena baru penglaris. Sebelumnya kami telah membeli Syimit dari pedagang berkgerobak seharga 1,5 Lira. Ternyata rasanya tawar dan teksturnya keras. 
Kebab kami beli seharga 1 lira dengan tampilan yang begitu menggoda, namun sayang ternyata rasanya juga tawar. Tidak ada rada gurih seperti kebab di Indonesia. Tidak ada campuran mayonais ataupun saos. Garam dan merica harus ditambahkan sendiri. Butuh kesabaran ekstra untuk menghabiskan sepotong kebab, itupun harus dikeroyok bareng.
Untuk melancarkan kebab yang membuat seret kerongkongan, kami membeli jus sunkis yang fresh, tanpa gula dan es. Salah satu ciri khas kota2 di Turki adalah penjual jus sunkis ini. Mungkin karena supplynya banyak, baik dari Turki sendiri maupun dari negara tetangga. Harganya bervariasi dari 3 hingga 5 lira. Rasanya memang sangat menyegarkan, meski terkadang agak kecut. Tidak perlu es lagi karena cuaca Istanbul relatif dingin meski di musim semi. Alat pemeras jus sangat sederhana, manual saja. Tidak perlu dibantu listrik.
Setelah puas berjalan dan window shopping kami memutuskan pulang ke hotel. Saat itu masih pukul 12.30. Sebelum pulang kami belanja buah dan roti untuk bekal makan siang di hotel. Awalnya kami memutuskan jalan kaki saja menuju hotel. Namun, di tengah jalan kami memutuskan naik taksi karena ternyata kontur jalannya sangat curam. Ibu2 menyerah dan tidak sanggup kalau harus berjalan kaki. 
Sopir taksi menjawab iya ketika ditanya apakah tahu hotel Icon. Ternyata kami dibawa berputar menjauh dari posisi hotel sehingga argo menunjukkan 30 lira. Padahal, harusnya taksi tinggal belok ke kanan dan tinggal 300 meter lagi. Jadi, wisatawan harus hati2 dengan taksi Turki. Pastikan mereka kenal hotel. Tunjukkan nama dan peta hotel yang biasanya ada di kartu atau kunci kamar yang kita bawa. Apalagi, bahasa Inggris sopir taksi di sini sangat terbatas.
Setiba di hotel untunglah kami sudah boleh check in. Kami langsung membersihkan diri dan istirahat sejenak sebelum nanti sore kembali pelesiran menuju Emirgan Park, menikmati bunga tulip yang sedang mekar2nya.

Istanbul: Kota di Dua Benua

Posted July 30, 2015 by Hery Azwan
Categories: Travel

Tags: , , , ,

Pukul 06 lebih sedikit kami tiba di Ataturk International Airport. Di awal hari ini kesibukan di bandara mulai menggeliat. Segerombolan penumpang bergegas menuju meja imigrasi. Yang agak membingungkan, tulisan tentang negara kita kurang jelas di mana posisinya. Rupanya ada beberapa kategori antrian imigrasi: penduduk asli Turki, negara yang tidak memerlukan visa, dan negara yang memerlukan visa. Tampak Raja Kuis Helmy Yahya juga baru turun dari pesawat. Sepertinya naik pesawat yang sama dengan kami, namun beda kelas. Hi hi… Karena bergegas ke toilet, kami tak sempat berfoto ria dengan raja kuis Indonesia ini. Padahal kepingin lho, biar aura suksesnya menular.

Nah, saat menuju pemeriksaan imigrasi kami sempat kebingungan dan hanya mengikuti gerombolan. Akibatnya, kami salah antri di negara yang tidak butuh visa seperti Malaysia. Mentang2 mukanya mirip, eh kita ikutin dia, padahal salah. Untung belum terlalu lama antrinya. Kami harus berjalan lebih jauh lagi mencari pos yang tepat. Interior bandara Ataturk biasa saja. Tidak semegah bandara Changi. Lantainya hanya marmer atau granito saja, bukan karpet.

Antrian di pos imigrasi semakin panjang. Arus penumpang yang baru datang semakin deras. Antrian tidak ada yang mengatur sehingga agak semrawut. Setelah lebih dari 20 menit kami lolos dari imigrasi. Untunglah visa sudah diperoleh secara on line sehingga tidak harus antri di loket visa on arrival. Tujuan selanjutnya, ambil bagasi. Nah, di sini kita harus teliti melihat layar monitor karena posisi bagasi kita bisa berada di mana saja. Dengan sok yakin aku bergerak ke sebelah kanan. Eh gak tahunya yang benar di sebelah kiri. Padahal sudah ngos-ngosan berjalan cepat. Lumayanlah buat mengurangi lemak tubuh.

Di bandara banyak juga portir, tapi trolley juga banyak tersedia. Di tiap Bagaj Alim (Tempat Pengambilan Bagasi) pasti ada. Hanya saja terkunci. Kita harus memasukkan koin 1 lira untuk bisa mengambil trolley ini. Berhubung tas kami besar2 dan banyak, kami mengambil 2 trolley. Sebelum keluar, kami juga sempatkan mengambil uang lira di atm. Ratenya cukup bagus, 1 lira setara dengan Rp5.000. O, ya dari atm di Turki sampai ke kota kecil di pelosok, umumnya kita bisa mengambil 3 jenis mata uang, yakni Euro €, US$, dan Turkish Lira ₺. Unik juga ya. Rasanya di negara kita hanya rupiah yang bisa diambil dari ATM. Atau ada pembaca yang tahu kalau US$ bisa diambil di sebagian tempat? Entahlah. Ini menunjukkan Turki sangat terbuka dan memanjakan orang asing. Bahkan paket wisata ditawarkan dalam euro. 

Dengan membawa bagasi kami keluar, namun rupanya tak ada pemeriksaan atau pencocokan barang dengan kartu bagasi oleh petugas. Wah, bahaya juga nih kalau ada yang salah ambil barang. Rupanya di penerbangan lokal juga seperti ini. Tak ada seremonial pencocokan barang dengan kartu.

Di luar sudah menunggu Abdillah Arin, travel consultant dari Travelshop yang membawa papan namaku dalam ukuran besar. Wah, senang juga ada yang menjemput. Mulanya agak khawatir jug kalau kalau travel ini tidak komit dengan perjanjian. Abdullah rupanya sudah lebih dari 1 jam menunggu. Sebelum menuju mobil, salah satu dari kami membeli nomor perdana agar tetap eksis selama di Turki. Harganya lumayan mahal, 80 lira atau sekitar Rp400.000 dengan kapasitas data 1 GB dan telepon 90 menit. Kalau di kita sih paket iPhone XL Rp50.000 sudah dapat 1,5 GB dan telepon gratis sesama XL selama 200 menit. 

Ya sutralah, meskipun mahal, tapi untuk eksis berapapun dibeli. 
Kami dijemput dengan mobil khusus pariwisata kapasitas 15 orang yang sangat nyaman. Mobil ini juga menyediakan tempat khusus bagasi di belakang. Hanya kami yang dijemput saat itu, sehingga kami berlima merasa sangat eksklusif. Sepanjang jalan, mobil jenis ini berseliweran. Pariwisata memang menjadi salah satu andalan perekonomian Turki. Tak salah kalau Turki menduduki urutan 6 dunia sebagai negata yang paling banyak dikunjungi setelah Perancis, Amerika Serikat, Spanyol, China dan Italia.

Suasana di tempat menaikkan penumpang agak crowded. Banyak klakson bertalu-talu. Tapi untunglah tak ada yang marah2 seperti di sini. 

Mobil melaju melewati jalur utama. Tidak ada tol di dalam kota Istanbul. Di tengah ada jalur busway yang uniknya tidak bersentuhan sama sekali dengan jalan biasa sehingga kecepatan bus bisa diandalkan. Para penumpang berjejal, tak jauh beda dengan di Jakarta. Kualitas busnya mirip dengan bus yang beroperasi di Singapura. Tampaknya dari supplier yang sama. Tinggi plafon juga sangat rendah, laksana bus biasa, bukan seperti busway. Tiket bus ini terintegrasi dengan transportasi lain seperti trem dan kereta bawah tanah. Ongkosnya 4 Lira jauh dekat atau sekitar 2 Lira jika menggunakan kartu pas khusus. Bagi turis yang cuma sehari dua hari di Istanbul tentu tak perlulah membeli kartu ini. Tapi kalau Anda berniat mengubek2 Istanbul dengan public transport dan durasinya lebih dari 3 hari, maka kartu pas ini sangat diperlukan.

O ya, yang juga perlu diperhatikan bagi yang ingin berliburan di Turki adalah cuaca. Saat kami keluar dari bandara menuju bus, suhu sekitar 12 derajat celcius sehingga masih diperlukan pakaian hangat, meski gak usah terlalu tebal. Saat itu padahal sudah di akhir bulan April yang berarti SPRING menuju SUMMER.

Jarak hotel kami sekitar 18 km, ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit karena ada sedikit sendatan. Tapi gak semacet Jakarta. Hotel kami 900 meter dari Taksim Square, salah satu lapangan yang cukup dikenal di dunia karena sering menjadi tempat demonstrasi. Jarak ini tentu agak jauh dari akses public transport, sehingga kami harus naik taksi. Memang jaraknya tidak terlalu jauh, tali konturnya mendaki sehingga kami khawatir bisa terjatuh di jalan. Sebenarnya sih karena malas aja. Inilah dilema menggunakan biro perjalanan. Kalau kita jalan sendiri, kita bebas memilih hotel di lokasi yang kita mau. Biasanya hotel pilihan travel biro agak sulit ditemukan di booking.com atau agoda.com. Biasanya juga mereka lebih senang menampilkan websitenya dalam bahasa lokal, bukan bahasa Inggris. 

Bahasa Inggris bukanlah bahasa yang dikuasai rakyat Turki. Sebagian besar supir taksi, penjual makanan, bahkan resepsionis hotel sulit berbahasa Inggris. Karena itu kita harus hati2 dalam berkomunikasi, terutama dengan sopir taksi. Ketika kita tanya alamat tertentu mereka menjawab tahu, tapi kenyataannya berputar2 karena tidak tahu atau karena modus untuk memperbesar nilai argo taksi.

Negeri 3 Imperium

Posted May 13, 2015 by Hery Azwan
Categories: Travel

Tags: , , , , , , , , , ,
Mengunjungi Turki merupakan keinginan lama saya yang terpendam. Keinginan pertama muncul setelah membaca buku berjudul ‘Istanbul’ karangan Orhan Pamuk. Buku ini banyak memberikan insight mengenai seluk beluk Istanbul. Suasana selat Bosphorus dengan kapalnya tergambar jelas. Juga, diceritakan ritual agama Islam yang kini hanya dijalankan oleh segelintir warga Turki, terutama oleh sebagian besar kalangan bawah. Sementara, kalangan elit tidak lagi mempraktekkan ritual Islam. Sebagian besar mereka mempraktikkan sekularisme yang dirintis oleh Mustafa Kemal Ataturk. 

 

Keinginan kedua muncul setelah adik ipar saya pulang dari umroh plus Istanbul. Saya dikasih oleh2 berupa T-Shirt bergambar trem dan bertuliskan Istanbul. Puhhh, sangat menggoda.
Keinginan ketiga muncul ketika teman istri saya yang baru menamatkan PhDnya dari Belanda menceritakan betapa indahnya Turki di antara negara Eropa lainnya. Selain itu, banyak peninggalan sejarah di sana.
Keinginan keempat muncul saat menyaksikan film 99 Cahaya di Langit Eropa hasil adaptasi novel Hanum Rais. Penggambaran yang indah di sekitar selat Bosphorus membuat hasrat ini semakin menggebu, pengen segera terbang ke sana.
Akhirnya, keinginan terpendam ini terwujud tanggal 27 April s.d. 7 Mei 2015 lalu. Kami berlima (istri saya Yuli beserta 2 saudaranya Teh Evy dan Temy, saya dan suami kakak ipar saya Aa Ferry) berkesempatan mengunjungi Turki: Istanbul, Kusadasi, Selcuk, Pamukkale, dan Cappadocia.
Bagi kalangan awam Turki sering dianggap sebagai representasi negara Islam. Hal ini cukup logis karena dulu Turki pernah diperintah oleh imperium besar di dunia Ottoman selama 5 abad. Karena itu, tidak heran kalau Istanbul sering dimasukkan sebagai paket tambahan dalam perjalanan umroh. Padahal, sejatinya kini Turki adalah negara sekuler, bukan negara berdasarkan agama Islam. Ini terjadi sejak tahun 1923 saat republik Turki berdiri dan kekhalifahan Ottoman dideklarasikan sebagai lembaga terlarang tahun 1924.
Persiapan
Awalnya kita berencana berangkat dengan travel dari Indonesia, tapi 10 hari sebelum hari H travel membatalkan keberangkatan karena kuota peserta tidak tercapai. Kuota 15 orang hanya terisi 10 orang. Masih kurang 5 orang lagi.
Kami menduga2 pembatalan ini mungkin karena pemberitaan mengenai ISIS yang sangat gencar di media. Sempat juga terpikir kami menunda lebih dulu keberangkatan sambil menunggu keadaan aman. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya kami memutuskan untuk berangkat sendiri dengan kombinasi menggunakan travel lokal di Turki. 
Tiket kami pesan secara on line dari Turkish Airlines seharga $971 per orang. EVisa juga kami beli langsung dari website seharga $25 per orang. Memang kita bisa memperoleh visa secara on arrival di Istanbul tapi khawatir akan antri panjang. Jadi pilihan apply eVisa secara online sangat disarankan.
 Ada yang perlu diperhatikan dalam mengurus eVisa ini. Data yang di paspor harus sama benar dengan data di visa. Jika data berbeda, nanti bisa ditolak di imigrasi Turki. Karena harus mengurus eVisa untuk 5 orang sekaligus, saya jadi terburu2 dan kurang hati2. Akibatnya, ada 3 evisa yang salah, yakni nama saya sendiri kurang satu kata, dan tempat lahir kakak ipar saya di Cianjur, padahal harusnya di Bandung. 2 eVisa terdeteksi lebih awal ketika belum berangkat. 1 eVisa terdeteksi di bandara Soekarno Hatta saat check in oleh petugas. Untunglah petugas tadi sangat baik. Solusinya, kami membuat eVisa baru lewat iPad dan setelah proses selesai kami mengirimnya ke email petugas tersebut untuk diprint. Terima kasih untuk Mbak Tiara Alfianita dan Mas Herman Junaedi atas kebaikannya yang tak terkira.
O, ya, selama di Turki kami mengikuti paket 9 hari 8 malam yang dirancang Travelshop Turkey dengan biaya €849 per orang double dan €839 per orang triple. Perjalanan ke Kusadasi, Pamukkale dan Cappadocia menggunakan pesawat sehingga perjalanan lebih nyaman.
Perjalanan ke Turki direncanakan 14 jam dengan transit di Singapura. Lucunya, tidak ada waktu luang di Changi untuk shopping karena setelah turun penumpang harus langsung masuk ke Gate dengan pemeriksaan ulang. Sebuah proses yang mubazir dan menyusahkan penumpang asal Jakarta.
Di pesawat ada 3 kali makan: 1 makanan ringan, 2 makan berat. Makan pertama, sesaat setelah lepas landas dari Jakarta, penumpang hanya diberi sandwich mini. Makan kedua, setelah lepas landas dari Changi penumpang diberi makanan ala Turki. Keju, tomat, yoghurt, buah zaitun, menjadi ciri khas. Makan ketiga, menjelang mendarat di Istanbul. Menunya telur orak-arik dan sosis ayam, plus roti oles.
Selama di pesawat aktivitas yang bisa dilakukan antara lain menonton film. Film yang berhasil saya tamatkan yaitu ‘Life of Pi’ dan ‘Gravity’. Kedua film ini merupakan film yang penuh makna hidup. Film pertama berkisah tentang perjuangan seorang pemuda India yang bertahan hidup di tengah lautan bersama seekor harimau bengali. Yang menarik, kisah pencarian jati diri sang anak akan kebenaran. Dia mempelajari dan melakoni berbagai ritual agama secara bersamaan. Misalnya, setelah salat ala Islam, dia berdoa sebelum makan ala Kristen. Akhirnya sang ayah mengarahkannya agar jangan memeluk banyak agama, tetapi lebih kepada penggunaan rasio atau akal.
Film kedua sangat menarik karena yang main sepanjang film hanya 2 orang, yakni Joddie Foster dan George Clooney yang berperan sebagai astronot. Mereka bertugas memperbaiki wahana antariksa, namun akhirnya harus terpisah karena debu angkasa yang menghantam wahana mereka. Perjuangan bertahan hidup di angkasa ini sangat mendebarkan. Di ruang tanpa batas ini tidak jelas lagi mana barat mana timur, mana atas mana bawah, mana siang mana malam. Sungguh adegan yang sangat mengguncangkan jiwa.
Tiba di Istanbul

Gita Remaja

Posted April 22, 2015 by Hery Azwan
Categories: Diary

Ini kliping liputan media pada acara televisi yang nge-hits di tahun 90-an, Gita Remaja. 

  

Calysta Skincare Buka di Sukabumi

Posted March 30, 2015 by Hery Azwan
Categories: Career, Vacancy

Tags: , , , , ,

Setelah eksis dengan 6 outletnya, kini Calysta Skincare, klinik kecantikan yang berdiri tahun 2011, berencana membuka cabang ke-7 di Sukabumi. Syukur alhamdulillah, sejauh ini Calysta dapat diterima pelanggan. Kota yang sudah dilayani Calysta adalah sbb: Bandung (Ketapang dan Margacinta), Kuningan, Garut, Tasikmalaya, dan Jakarta (Pulomas). Lompatan spektakuler dilakukan cabang Garut yang baru berumur setahun, tapi omsetnya hampir menyamai omset cabang Ketapang, sebagai cabang yang pertama berdiri. Ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap Calysta  oleh pelanggan di cabang baru semakin cepat.

Atas dibukanya Calysta di Sukabumi, manajemen membutuhkan tim untuk mengisi posisi sbb:

1. Dokter umum

2. Apoteker

3. Asisten Apoteker

4. Perawat

5. Terapis

Lamaran dan CV dapat dikirim via email ke hrd.calystaskincare@gmail.com paling lambat tanggal 15 April 2015.

Lowongan Kerja di Sukabumi

Posted March 29, 2015 by Hery Azwan
Categories: Career, Diary, Vacancy

Tags: , , , , , , ,

  

Business Plan for SME

Posted January 15, 2015 by Hery Azwan
Categories: Book Discussion, Management

Tags: , , , ,

2015/01/img_3212.png
Anda pengen berbisnis, tapi tidak tahu mulai dari mana…
Anda sudah punya bisnis, dan ingin mengembangkannya secara lebih profesional…
Saya memberikan free eBook berjuduk Business Plan for SME.
Silakan diunduh dari link berikut
https://docs.google.com/file/d/0B__0QCz68_NqVWVJd1dJWWZfcHM/edit?usp=docslist_api


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers