Sangkala Lima: Pesantren Undercover

Setelah kesuksesan buku Laskar Pelangi, telah banyak buku yang meniru resepnya. Kisah masa kecil atau masa-masa belajar yang penuh keceriaan atau malah kesulitan hidup memang menarik untuk dibaca. Biasanya, buku seperti ini ditulis berdasarkan kisah pribadi penulisnya. Di antara sekian banyak buku bergenre ini, hanya dua buku yang menurut saya fenomenal, yakni trilogi Negeri 5 Menara (termasuk Ranah 3 Warna) yang ditulis oleh A Fuadi dan 10 Autumn 9 Summer yang ditulis oleh Iwan Setiawan. Bahkan, Negeri 5 Menara yang mengeksplorasi suasana di Pondok Modern ini sudah difilmkan dan menuai sukses. Sementara 10A9S juga akan dibuat filmnya dan saat ini konon masih dalam tahap produksi.

Satu lagi buku bergenre seperti ini yang masih anyar berjudul Sangkala Lima hasil besutan Mohamad Bahroni yang bernama pena Langlang Randhawa. Buku ini banyak bercerita tentang kisah perjalanan seorang anak yang dipaksa masuk pesantren hanya karena orangtuanya tidak mampu membiayainya di sekolah umum. Buku ini tampaknya diilhami kisah nyata penulisnya yang harus menyelesaikan pendidikan di tengah keterbatasan materi. Tokoh utama dalam buku ini yang bernama Larang berayahkan seorang penjual unggas, mirip dengan profesi asli ayah penulis buku ini.
Bagi yang penasaran dengan suasana di pesantren tradisional, buku ini merupakan panduan yang lengkap. Berbeda dengan Negeri 5 Menara yang hanya menampilkan sisi positif dari pesantren, Sangkala Lima menampilkan seluk beluk pesantren secara apa adanya, yang tabu dan remeh temeh pun diungkap.
Dikisahkan Larang dipaksa orangtuanya masuk pesantren kecil yang dimiliki oleh teman ayahnya. Eh, baru sebulan Larang malah kabur karena tidak betah. Lho kok? Rupanya sang Kyai sering tidak ada di tempat karena sibuk berkeliling mengunjungi para alumni untuk memohon donasi. Akibatnya pesantren sepi. Eh, istri kyai malah sering pinjam beras dari tokoh kita ini. Udah gitu, ketika Kyai pulang malah disuruh mijitin kyai. Boro-boro bawa oleh-oleh.
Di pesantren tradisional ada yang disebut santri kalong dan ada santri full time. Santri full time khusus belajar ilmu agama di pesantren, karena itu mereka merasa lebih berhak disebut santri. Sementara santri kalong belajar di sekolah umum di sekitar pesantren. Yang tragisnya, ada santri yang sekolah pagi di STM dan menjadi pemimpin tawuran. Terlalu….

Di pesantren tradisional pada umumnya santri pria dan wanita belajar dalam kelas yang sama. Santri pria dipanggil dengan mamang santri dan santri wanita dipanggil bibi santri. Ini khas pesantren di Banten. Kalau di Jawa mungkin beda sebutannya, bisa jadi mas santri dan mbak santri.

Aktivitas belajar di pesantren biasanya dilakukan sehabis salat wajib. Materinya terdiri dari pembahasan kitab kuning dalam bidang akidah, fiqh, akhlak dan bahasa Arab. Kitab terkenal seperti Alfiah Ibnu Malik menjadi salah satu kajian.

Untuk memenuhi kebutuhan perut, santri harus bisa memasak sendiri. Biasanya diolah dalam bentuk liwet yang isinya sangat sederhana: nasi, sayur dan ikan asin. Karena begitu sederhananya, cara memasaknya pun sederhana juga. Semua bahan dicampur jadi satu di dalam panci.

Aktivitas mandi masih dilakukan secara tradisional, yakni dengan menimba air dari sumur. Santri harus mandi menggunakan basahan karena aktivitas ini dilakukan bersama. Tidak ada ruang privat. Tak jarang ada santri nakal yang menarik kain basahan temannya. Dasar santri nakal….
Dalam hal penegakan Disiplin ada lurah pesantren yang dipilih dari santri senior. Tugasnya, mengerahkan santri untuk berjamaah di masjid dan menjaga keamanan. Eh, terkadang malah lurah ini yang melanggar peraturan.

Ada santri baik, ada santri nakal. Kenakalan santri misalnya dengan mencuri rambutan tetangga seputar pondok. Tak jarang, ayam tetangga yang nyasar ke pesantren juga disikat.

Ilmu Kanuragan menjadi salah satu ilmu yang digeluti oleh sebagian santri. Ada yang fokus dengan ilmu pengasihan, ada juga yang bisa menyambet atau kesurupan Bruce Lee. Entah bagaimana penjelasan ilmiahnya. Pada akhirnya ilmu seperti ini semakin tidak populer karena pertimbangan akidah maupun karena kemajuan zaman.

Bagi yang tertarik dengan buku ini, bisa mendapatkannya di toko buku Gramedia dan toko lainnya di kota Anda.

20120725-171125.jpg

About these ads
Explore posts in the same categories: Book Discussion, Cerita Santri

Tags: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

3 Comments on “Sangkala Lima: Pesantren Undercover”

  1. vizon Says:

    Menarik sepertinya nih…
    Insya Allah aku cari buku ini nanti… :-)

  2. lola Says:

    pengen beli bukunya neh


  3. beli ah di gramedia bintaro liburan dibaca


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers

%d bloggers like this: