Ketika Santri (Gak) Jadi Polisi

Artikel ini terinspirasi dari berita yang saya lihat di televisi tadi pagi. Beritanya tentang santri sebuah pondok pesantren di Madura yang melakukan demo anarkis di kantor polisi.  Apa pasal? Katanya, karena santri yang bermaksud mendaftar menjadi polisi ditolak hanya karena lulusan pesantren, sementara mereka punya ijazah negeri. Santri pesantren tersebut merasa ada diskriminasi terhadap mereka.

Penasaran dengan berita ini, saya mengontak teman saya yang kebetulan alumni dari pesantren tersebut. Menurutnya, kenapa ada santri yang marah ditolak menjadi polisi karena mereka merasa berhak sebagai warga negara. Santri tidak boleh dibatasi menjadi apapun karena kesantriannya. Dari obrolan di group BB ini berkembang beberapa anekdot menarik, Andai santri menjadi polisi. Siap-siap ketawa ya….Mohon maaf sebelumnya kalau ada yang tersinggung.

  1. Kalau menilang pelanggar lalu lintas, bayar dendanya bukan pake duit, tapi pake hapalan surat Yasin atau baca Al Fatihah 100 kali
  2. Kalau menghadapi demo nyantai aja, tinggal berdoa agar hujan turun lebat atau panas terik.  Jadi, nggak perlu pentungan, negara bisa hemat anggaran.
  3. Kalau menangkap pasangan selingkuh bisa langsung jadi penghulunya.
  4. Kalau ada yang meninggal di jalan raya, bisa ikut memandikan jenazahnya.
  5. Kalau menangkap koruptor langsung disisihkan buat zakat dan infak.
  6. Kalau kawannya gugur dalam tugas dengan meninggalkan istri yang masih muda, langsung ikut sunnah Rasul untuk menikahi janda korban perang
  7. Kalau disuruh ngawal hajatan nggak perlu dikasih duit, cukup besek atau berkat aja.
  8. Kalau diperintah komandannya, jawabnya bukan “Siappppp”, tapi “Insya Allah, Komandan”.
  9. Kalau disuruh ke taman makam pahlawan, dia nolak. Maunya ke makam para wali.
  10. Gak mau naik pangkat. Maunya naik mimbar.
  11. Bisa menghabiskan anggaran, karena semua harus dicetak ulang. Surat tilang, STNK, SIM, BPKB harus diawali dengan Bismillah.
  12. Kalau di-entertain sama cukong di klub malam menolak. Maunya marawis aja.
  13. Kalau baca maunya dari kanan ke kiri. Gak mau FB-an, maunya BF-an
  14. Gak mau menilang perempuan karena bukan muhrim
  15. Kalau latihan setelah apel pagi nggak perlu latihan karate, judo dan sejenisnya, tapi cukup baca amalan dan mantra untuk nyambet Bruce Lee.
  16. Pajak kendaraan diganti zakat kendaraan
  17. Diajak ke restoran nggak mau. Maunya ngeliwet bareng
  18. Makan anggaran lagi karena kata “Siap Melayani Anda”, ditambah “Lillahi Taala”

Ayo, mana yang paling lucu? Teman-teman saya memang kreatif….

Terima kasih buat Bakir, Tbob, dan Kay

About these ads
Explore posts in the same categories: Cerita Santri

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

2 Comments on “Ketika Santri (Gak) Jadi Polisi”

  1. nh18 Says:

    Nomer TIga Belaaaasss !!!

    (qiqiqiqi)
    (ndak berani ngakak kenceng-kenceng …)

    Salam saya Bang

  2. vizon Says:

    Bwahahahaha….. Ampuuuunnnn deh….
    Kira-kira teman kita yang di mabes itu, kayak gitu gak ya..? :D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: