Demam Panggung

Salah satu yang sangat ditakuti manusia adalah berbicara di depan umum. Dulu, saat tampil di depan umum saya selalu dihantui kekhawatiran. Tetapi sekarang sudah banyak berkurang. Hanya ketika audience-nya agak berbeda, baru saya agak sedikit ciut.

Demam panggung ini sebenarnya tidak hanya dialami oleh orang yang berbicara di depan umum saja. Penyanyi, atlit, pemain band, penari, pokoknya semua yang dilakukan di depan orang banyak, pasti pernah merasakan sensasi ini.

Sejarah penampilan saya di depan umum dimulai saat kelas 1 SD. Saat itu kami (5 orang) menyanyikan lagu Adi Bing Slamet yang syairnya “Sederhalah hidupmu kawan…” pada acara perpisahan kelas 6. Tanpa iringan musik apapun, hatta sebuah gitarpun. Namanya juga SD kampung. Berhubung nyanyinya bareng2, saya tidak begitu nervous.

Penampilan kedua saya saat ulang tahun anak seorang Asisten Kebun (kami menganggapnya sebagai jajaran orang kaya di kebun). Saat itu saya masih kelas 2 SD. Lagu2 Boney M diputar pada sebuah tape. Hadirin mulai bergoyang. Melihat suasana yang menghanyutkan ini saya pun ikut “melantai”. Segala gaya saya coba, dari yang normal sampai yang paling konyol. Saya menikmati setiap gerakan dan tidak ada rasa gemetar sedikitpun. Saya semakin semangat karena penonton rupanya menikmati goyangan asbun kami (ah, dari kecil udah narsis rupanya…)

Pengalaman selanjutnya, baru benar-benar menantang karena saya tampil seorang diri. Memperingati maulid Nabi sekolah saya mengadakan lomba pembacaan Al Qur’an. Saat itu saya sudah kelas IV SD. Menjelang giliran tampil jantung saya sudah berdegup kencang. Dag dig dug dag dig bar…….

Setelah mengucapkan salam, saya mulai membaca ayat-ayat Al Qur’an. Lutut saya bergetar hebat. Untunglah, bacaan saya tidak terlalu berpengaruh sehingga saya berhasil menjadi juara 1 (memang nggak ada saingannya…he he…).

Secara umum, kegiatan yang membuat saya sering tampil waktu anak-anak dan membuat saya tidak lagi demam panggung adalah: lomba azan, jadi muazin di mesjid, mtq, lomba baca puisi, menjadi ketua kelas, menjadi ketua regu pramuka, menjadi komandan upacara (suara teriakan saya besar lho), menjadi pemain bola terbaik waktu 17 Agustusan.

Pengalaman di masa kecil tadi rupanya cukup bermanfaat ketika saya mulai beranjak remaja dan setelah dewasa hingga saat ini. Salah satu yang masih saya ingat adalah ketika saya ditunjuk mewakili siswa untuk menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris menyambut Duta Besar Mesir yang datang ke pesantren kami.

Saya tidak ditunjuk begitu saja, melainkan diseleksi dari tiga orang siswa yang sudah diamati oleh guru BP. Sebelumnya, saya pernah menjadi MC pada lomba pidato bahasa Inggris sehingga guru BP aware dengan potensi saya. Setelah kami bertiga menyiapkan naskah masing-masing, kami dipersilakan berpidato di depan guru (kalau nggak salah saat itu audisinya di tengah kebon singkong). Setelah mendengar pidato kami bertiga, saya berhasil terpilih.

Pada hari H saya memberikan sambutan dengan sedikit gemetar, meskipun audiens tidak melihatnya. Intinya, saya berhasil pidato tanpa teks dengan lancar tanpa blank spot. Sayang, saat itu belum musim kamera digital sehingga kegiatan ini tidak terabadikan.

Terakhir, yang sangat berkesan bagi saya adalah saat dipercaya menjadi MC pada sebuah acara pertemuan tahunan Asosiasi Penerbit Asia Pacific yang disingkat APPA. Acara ini diadakan di Hotel Discovery Bali. Dengan PD saya membawakan acara dan tidak peduli kalau bahasa Inggris saya belepotan. Yang penting tampil. Kalau kesempatan ini tidak saya ambil, kapan lagi punya pengalaman seperti ini.

Tidak hanya di acara resmi yang dihadiri sekitar 100 orang ini. Pada acara makan malam, saya juga menjadi MC (tiga malam berturut-turut dengan acara berbeda: Welcome Dinner, Book Award Dinner dan Farewell Dinner). Intinya, gemetar masih ada, tapi tidak menghalangi saya untuk melakukan tugas saya. Perkara takut dinilai jelek, saya tidak peduli. Mungkin ketidakpedulian inilah yang menyebabkan demam panggung bisa hilang sedikit demi sedikit.

Bagaimana dengan sampeyan? (lho kok jadi ngikutin gaya EWA?)

About these ads
Explore posts in the same categories: Diary

Tags: , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

5 Comments on “Demam Panggung”


  1. pengalaman yang menarik, mas azwan. demam panggung memang bisa menghinggapi siapa saja. dalam situasi seperti itu *halah sok tahu* yang perlu dilakukan adalah menyiasati agar demam panggung itu tak sampai terekspresikan di depan audience. toh sebenarnya demam panggung itu sebuah situasi psikologis yang muncul karena diciptakan sendiri oleh kita.

    betul, pak. justru terkadang demam panggung ini yang membuat kita jadi lebih konsentrasi. halah…

  2. jeunglala Says:

    hehe… baru nyadar saya kalau ini blognya seleb.. :mrgreen:
    saya mulai berani tampil di depan umum sejak TK, terus semakin dewasa, makin nggak pede.. hehehe… Baru mulai pede lagi pas udah kuliah; ini malah urat malunya putus-tus-tus :)
    saya cuman PD kalau disuruh nyanyi.
    Kalo disuruh baca puisi apalagi nari apalagi jadi MC yang nginggris gitu.. waduh… permisi aja.. saya pulang duluan .. hehe..

    alhamdulillah kalau udah “nyadar” (dilempar lumpur Lapindo sama Jeung Lala…).
    kapan2 bisa ndengerin jeunglala menyanyi. bisa dishoot dan dimasukin ke youtube kan?
    makasih sudah berkunjung…

  3. nh18 Says:

    Huahaha … ini asik nih bang … asik …
    Ternyata abang pemain bola juga ya …
    Ah bener-bener kumplit si abang ini …

    Kalo aku ??? Demam Panggung ???
    Mmm … ya … biasanya 5 menit pertama …
    Setelah itu … nah malah penontonnya lah yang demam …
    pengen muntah dan sejenisnya …

    Tapi kalo ngasih Training … gua jabanin … gua jabanin … !!!

    Kalo maen musik ??? …
    Tergantung … aku main itu setelah siapa …!!!.
    Kalo yang sebelum aku mainnya cemen … nah aku agak PD
    Tapi kalo yang main sebelum aku itu Andi Rianto ??? … Nah itu aku bukan demam lagi … tapi Pingsan … !!!

    Aku jadi kepingin mengikuti training si Bos nih.
    Gayanya pasti pol-polan punya.
    Kalau si bos main band?
    Ehm…menarik juga disaksikan.
    Dalam kesempatan apa ya?
    Indonesian Idol? Ah, nggak mungkin banget…

  4. Ikkyu_san Says:

    wahhhhh jadi pengen ikut narsis ahhhhh…

    tapi yang pasti kalo bahasa Inggris, tanpa text no way. Harus pake teks, baru mau.

    wahhh sebel, jadi inget deh. kejadian demam panggung padahal tidak di panggung. yaitu diwawancarai pake bahasa Inggris di Radio “live via telephone” ampuuun deh. pas waktu itu aku udah lama sekali tidak pakai bahasa Inggris, bisanya Japlish…belepotan deh jawabnya. mau tau kapan? waktu Ibu Tien Suharto meninggal….. huh jadi sakit perut lagi ngingetin nya.

    Kalo bahasa Indonesia dan Jepang OK lah….(belagu amat ya kedengarannya hihihi)

    Wah bahasa Jepang Bu Imel sudah setara dengan bahasa Indonesianya ya.
    Ccckkkkk…..
    Btw, waktu itu yang wawancara radio Indonesia atau radio di Jepang?

  5. white wizard Says:

    ternyata saya lebih awal bernyanyi di depan beberapa orang..pengalaman pertama saya bernyanyi di depan dokter dan suster…hahaha….lol
    ada trik yg bisa mengurangi sedikit “demam panggung” yaitu dengan mengeluarkan/menghentakkan udara diantara leher dan tenggorokan beberapa kali(kira2 sperti ini : “ehem..”ehem)….beberapa detik bisa mengurangi demam panggung…asal jangan terlalu sering, nanti dikira orang lain..kita TBC…

    nyanyi di depan dokter dan suster pada momen apa ya?
    terima kasih untuk tipsnya.
    mungkin bisa diterapkan oleh teman2 yang masih demam panggung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: