Ganti Hati, (tak) Ganti Nyali

Saat Nurcholish Madjid (Cak Nur) meninggal dunia konon wajahnya terlihat hitam. Yang menyedihkan, banyak khatib Jumat yang menyatakan kalau Cak Nur tidak diterima Tuhan karena telah murtad. Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, yang wajahnya juga mulai menghitam, membela Cak Nur. Menurutnya, wajah hitam Cak Nur terjadi karena fungsi livernya bermasalah, bukan karena tidak diterima oleh Allah.

Buku Ganti Hati

Sore menjelang pergantian tahun saya menyempatkan hunting ke Gramedia Istana Plaza Bandung. Mata langsung menuju tumpukan buku best seller. Salah satu yang menarik perhatian adalah buku Ganti Hati. Saya lihat di sampul belakang ada endorsement Taufik Ismail yang menyinggung zikrul maut. Ada juga foto Nurcholish Madjid dan sms keluarganya yang mengucapkan terima kasih atas tulisan Dahlan. Tanpa pikir panjang saya langsung mengambil buku ini dan pergi ke kasir.

Sesampainya di rumah saya tak bisa menahan diri untuk langsung melahap buku ini. Keasyikan ini terhenti sebentar karena saya diundang ke rumah uwak untuk merayakan pergantian tahun di rumahnya.

Penasaran

Setelah pukul 00.00 yang ditandai dengan tiupan terompet dan kembang api, kami langsung pamitan. Pukul 00.30 saya tiba di rumah dan langsung mencari buku tadi. Maksud hati mau membaca sekilas saja. Tetapi rasa penasaran tak mampu menghentikan saya untuk menamatkannya hingga azan subuh bergema. Dengan bahasanya yang lugas dan mengalir lancar Dahlan berhasil membuat saya terhanyut.

Buku ini merupakan kolom bersambung Dahlan di harian Jawa Pos News Network tentang proses transplantasi liver beliau di sebuah kota di Tiongkok. Tidak itu saja. Dalam buku ini Dahlan menyelipkan pandangannya tentang manajemen, agama, kemasyarakatan, dan sedikit masa lalunya.

Prosesi pra dan pasca operasi diceritakan Dahlan dengan sangat terperinci dan bahasa yang mudah. Misalnya diceritakan kalau sebelum operasi seluruh rambut di tubuh harus dicukur. Pasien juga harus puasa agar isi perut kosong. Bahkan untuk memastikan tidak ada lagi kotoran di usus, dimasukkan cairan khusus lewat dubur. Cairan ini merangsang kotoran keluar.

Selang yang dipasang di tubuh juga sangat banyak. Ada yang dipasang di tenggorokan untuk bernapas, ada yang dipasang di lubang kemaluan untuk menyalurkan air seni.Buku ini juga dilengkapi dengan foto dan ilustrasi di bagian akhir buku. Foto liver yang sudah dibuang diperlihatkan dengan jelas. Tampak liver ini sudah menghitam dan terlihat rusak. Foto dokter yang mengoperasi dan suster juga tampak. O, ya, Dahlan sangat mengagumi kerja mereka.

Operasi liver merupakan operasi besar yang sangat berisiko. Seringkali pasien harus menunggu berbulan-bulan untuk mencari donor yang cocok. Donor bisa didapat dari orang mati maupun orang hidup. Tidak seperti organ lain, liver dapat tumbuh kembali. Karena itu, pada donor orang hidup, liver dibagi dua dan nantinya masing-masing liver dapat tumbuh sesuai ukuran normal. Setelah operasi, tidak ada jaminan semuanya akan lancar. Sering terjadi pasien yang sukses saat operasi akhirnya harus meninggal karena terinveksi virus pada pasca operasi.

Sebelum operasi Dahlan khawatir kalau ada yang berubah pada dirinya. Konon ada orang yang sebelumnya tidak suka judi, tetapi setelah operasi jadi suka judi karena donornya memang punya sikap demikian. Ternyata setelah operasi karakter Dahlan tidak berubah. Bahkan kemampuan menulisnya juga tidak hilang. Mungkin karena yang diganti hanya liver. Kalau yang diganti jantung sebagai pusat perasaan mungkin ceritanya bisa lain.

Misteri apakah penggantian organ vital seperti jantung akan mengikuti karakter donornya tentu selalu menarik diikuti. Jika karakter berubah dengan bergantinya organ berarti organ fisik memang dapat mempengaruhi karakter. Tetapi kalau tidak, di manakah sebenarnya letak perasaan? Di otak?

Pertemanan

Dari buku ini kita dapat melihat Dahlan tidak pandang bulu dalam berteman dan bekerjasama. Menjelang operasi, Dahlan didoakan secara khusus oleh temannya dari semua penganut agama. Ada umat Islam penganut Sathariyah yang khusus membacakan kalimat “Hu” 99.000 kali (menurut Dahlan bacaan Hu merupakan hasil compress dari syahadat). Ada umat Kristen, Hindu, Budha, bahkan penghayat kejawen.

Dahlan yang sejak lama belajar bahasa Mandarin juga sangat dekat dengan kalangan Tionghoa. Di Tiongkok Dahlan punya kakak angkat. Tangan kanannya selama di Tiongkok adalah Robert Lai, seorang ahli hukum lulusan Singapura. Direktur Utama Jawa Pos juga orang Tionghoa, Cik Wenny, yang dulunya merupakan pegawai rendahan. Pokoknya relasi Dahlan sangat luas. Salah satu guru spiritualnya adalah Agus Mustofa yang dikenal dengan buku Takdir Bisa Diubah, Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Pusaran Energi Ka’bah, dll.

Untuk berhubungan dengan teman dan relasi bisnisnya Dahlan selalu menggunakan teknologi terkini seperti internet. Bahkan saking bandelnya Dahlan, tiga jam menjelang operasi masih ada mitra yang mengirim sms agar perusahaannya diambilalih. Seminggu pasca operasi, Dahlan minta diizinkan menulis reportasenya untuk pembaca Jawa Pos. Karena itu, ruang perawatannya di rumah sakit selalu dilengkapi dengan internet. Dari sini Dahlan bisa melakukan kontrol terhadap perusahaannya.

Rasionalisme

Meskipun dibesarkan dalam keluarga yang agamis, tapi Dahlan tumbuh sangat rasional. Untuk berdoa saja Dahlan agak sedikit sungkan. Menurutnya, Allah telah memberikan kita otak untuk menyelesaikan masalah kita. Jangan sedikit-sedikit minta kepada Tuhan. Karena itu, menjelang operasi dilakukan, Dahlan hanya berdoa pendek,”Ya Allah kalau aku harus hidup, hidupkanlah, dan kalau memang harus mati, matikanlah”.

Berkaitan dengan meninggalnya Nurcholish Madjid akibat penyakit yang sama dengan Dahlan, ada sebuah perbincangan yang cukup mengharukan. Disebutkan di khotbah-khotbah bahwa cendekiawan muslim ini meninggal dengan wajah yang hitam. Ini menandakan bahwa Allah tidak menerimanya. Bahkan ada yang mengatakan murtad.

Menurut Dahlan yang wajahnya juga mulai menghitam akibat penyakit ini, wajah yang hitam bukanlah karena Allah tidak menerimanya tetapi karena livernya tidak berfungsi dengan normal. Sebaliknya, orang yang meninggal dengan muka tersenyum tidak otomatis diterima oleh Allah. Misalnya saja, menurut Dahlan, Lenin yang komunis meninggal dalam keadaan tersenyum (mayatnya dapat dijumpai di museum di Rusia). Apakah dia diterima oleh Allah? Demikian rasionalisme selalu menjadi pertimbangan utama dalam kehidupan Dahlan.

Etos Kerja

Dahlan adalah pekerja keras. Dia membangun Jawa Pos yang hampir bangkrut sehingga kini menjadi salah satu konglomerat media di Indonesia. Dari segi pendidikan, Dahlan tidak mengecap sekolah yang tinggi. Dia hanya lulus aliyah kampung dan pernah kuliah beberapa semester di cabang IAIN Sunan Ampel di Samarinda. Bahkan Dahlan mengakui kalau setamat aliyah dia tidak dapat menyebutkan nama hari dalam bahasa Inggris karena saat pelajaran berlangsung dia lebih suka mencari ikan di sungai.

Dalam hidupnya, Dahlan tidak pernah punya cita-cita muluk atau visi yang terlalu jauh. Hidupnya simpel saja. Tujuan ditetapkan sesuai kemampuan. Jika sudah tercapai, baru dia menetapkan tujuan baru. Misalnya saja, pada tahap awal di Jawa Pos, dia hanya mencanangkan tiras setengah dari Surabaya Post. Kemudian baru setelah target tercapai dia meningkatkan target menyamai Surabaya Post.

“Biarkan air mengalir. Jika ada batu di depan, tidak usah ditabrak. Cukup dihindari dan mengalir dari sampingnya.” Hal ini mirip dengan manajemen berdasarkan air yang dicetuskan Gede Prama. “Seringkali orang yang mempunyai visi menabrak saja batu tersebut dengan risiko hancur”, lanjut Dahlan. Selama 15 tahun kerja di Jawa Pos tidak ada hari libur bagi Dahlan. Dia bekerja 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, 350 hari dalam setahun. Waktu istirahat sangat mewah bagi Dahlan. Setiap hari dia berkeliling dari satu ke kota, baik dalam maupun luar negeri untuk mengurus bisnisnya.

Zuhud

Salah satu yang menarik dari Dahlan adalah dia diangkat menjadi CEO perusahaan daerah tanpa digaji. Bahkan perjalanan dinas untuk kepentingan perusahaan daerah selalu dilakukannya bersama urusan pribadi sehingga pemda tidak harus mengeluarkan biaya perjalanan dinas. Hal ini rela dilakukannya untuk mengabdi kepada masyarakat. Tak banyak orang yang sudi melakukan hal seperti ini.

Komitmen untuk hidup lurus sudah dicanangkan Dahlan sejak menjadi wartawan. Pernah dia menolak amplo setelah melakukan wawancara dengan seorang tokoh. Padahal saat itu di kantongnya tidak ada uang untuk ongkos. Akibatnya, dia harus jalan kaki sejauh 6 km.Sejak kecil Dahlan biasa hidup miskin. Baru di kelas 2 Aliyah Dahlan dapat merasakan memakai sepatu ke sekolah. Makan ayam secuil hanya bisa dirasakannya saat ada tahlilan. Karena itu, waktu kecil Dahlan sangat hapal tanggal kematian seseorang.

Hal ini berbeda dengan tanggal kelahirannya yang tidak diketahui secara persis karena lemari tempat mencatat tanggal kelahirannya sudah dijual untuk biaya berobat ibunya. Menyikapi hal ini Dahlan cukup kreatif dengan menetapkan sendiri tangga kelahirannya 17 Agustus 1951.

Sebagai orang yang besar di Kalitim Dahlan sangat prihatin dengan krisis listrik di sana. Karena itu Dahlan berusaha mempertemukan investor Cina untuk membangun PLTU di Kaltim. Namun malangnya, birokrasi yang ruwet malah memperlambat realisasi proyek ini. Dengan investasi ini diharapkan PLN dapat untung: dengan perhitungan biaya 1 kw/h Rp 500, sementara harga jual ke konsumen Rp 750. Padahal selama ini biaya 1 kw/h Rp 2.000. “Bagaimana tidak rugi?”, kata Dahlan.

Menghadapi lambannya birokrasi ini seringkali Dahlan mengeluh. Padahal dia kenal baik dengan menteri, dirjen dan bahkan wakil presiden. Itulah birokrasi Indonesia.

Manajemen

Dahlan sangat memberikan warna di Jawa Pos. Hasil pelatihan manajemen di PPM menjadi bahan wajib bagi wartawan Jawa Pos. Metode pembobotan sangat menarik perhatiannya sehingga sering diterapkan di perusahaan.

Dahlan sangat egaliter. Hal ini salah satunya ditunjukkan dengan tidak adanya kamar kecil khusus untuk pimpinan. Tujuannya ada dua, yakni untuk mempersering kontak antara bawahan dengan atasan dan untuk membuat kamar kecil selalu dikontrol oleh atasan.

Kunci sukses menurut Dahlan adalah kerja keras, kerja keras dan kerja keras. Dahlan sangat percaya dengan potensi orang muda. Karena itu, seluruh anak perusahaanya dipegang oleh orang muda. Bahkan dokter yang akan mengoperasinya juga dipilih yang masih muda agar staminanya cukup kuat menghadapi operasi yang cukup lama.

Menurut Dahlan, setelah era informasi, telah menunggu di depan era biologi. Berbagai teknologi canggih di bidang ini sudah ditemukan, hanya saja masih terlalu mahal. Memajukan dan memundurkan ajal sudah dapat dilakukan oleh manusia. Ayat Al Quran tentang ini menurut Dahlan harus diinterpretasi ulang.

Rekomendasi

Buku ini sangat baik dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami saripati hidup. Bagi mereka yang tidak dapat mengakses pendidikan berkualitas dapat berkaca pada kesuksesan Dahlan. Dari sekolah pinggiran Dahlan kini orang paling berpengaruh di Jawa Timur. Tentu saja bagi mereka yang sedang menderita penyakit hepatitis B, buku ini dapat mencerahkan. Bagi orangtua yang punya anak kecil jangan lupa untuk melakukan imunisasi hepatitis B. (Hery Azwan, Bandung, 2/1/2008)

About these ads
Explore posts in the same categories: Book Discussion

Tags: , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

5 Comments on “Ganti Hati, (tak) Ganti Nyali”

  1. Mula Harahap Says:

    Saya lebih suka memakai istilah “bincang-bincang tentang buku” ketimbang “resensi buku”, “tinjauan buku” dsb.

    Dan inilah contoh “bincang-bincang tentang buku” yang saya suka. Kita ngomong tentang isi buku yang kita sukai itu seraya mengaitkannya dengan berbagai hal yang muncul di pikiran kita. (Dan memang demikianlah hal yang kita lakukan ketika sedang membaca buku).

    Perbincangan yang demikian membuat orang yang membaca tulisan kita akan tertarik untuk membaca buku yang sama: Untuk mendapatkan pengalaman yang–tentu saja–lain, tapi tak kalah menarik, dan sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman hidup yang dimilikinya.

    Bravo, Bung Azwan!

  2. )x( Says:

    sedikit tergelitik pada menghitamnya wajah yang dijadikan topik nggedabrus para penjual suara mimbariah menjadikan ketidaksukaanku terhadap mereka sedikit meningkat pada level kemuakan yang beralasan.

    black or white are just colors and not indicators! mereka cukup tangguh untuk tidak hanya membodohi orang lain tapi memperbodoh diri sendiri dihadapan orang lain.

    coba saja, Her!
    tes saja mereka lewat analisa kontrastif warna wajah, saya yakin akan malah ketahuan wajah belang mereka.

  3. Dhany Says:

    entah apa yang bikin suka meski agak terlambat…
    menarik dan mengalir apa adanya
    mudah-2 an kita semua dijauhkan dari segala macam sakit
    khususnya yang obatnya mahal-mahal…

  4. Oni Says:

    Ass.wr.wb..Pak Hery, aduhhhh..ketemu lagi dengan bapak dalam materi yang berbeda. Saya jadi kagum sama bapak, hobi nulisnya bapak itu yang bikin gimanaaaa gitu. Dua jempol untuk bapak…Dan yang terpenting jadi catatan buat kita adalah Allah tidak akan memberikan cobaan dilaur kemampuan kita, Amin

    Wah, ketemu lagi dengan Mbak Oni. Pujiannya bisa membuat kuping saya naik sebelah, nih. Yup, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita. Amin

  5. Muhammad Asqa Rabban Says:

    Keyakinan… Tauhid… Akhlak… Aqidah… Apa yang membedakan semuanya ? Antipati dah sama Dahlan. Dia juga gak bisa diandalkan – liberal ! Memang boleh kalau akhlak dan syariah dirasionalisasikan (di’Ijma-Qiyashkan), namun apakah artinya kita juga bisa merasionalisasikan hal fundamental tentang Islam ? Reinterpretasi ayat Al-Qur’an ? Wajah yang menghitam bukan karena Allah melaknatnya ? Kenapa masih percaya dia Islam kalau dia gak percaya dengan kandungan kitab yang dia percayai sendiri ?

    Bodoh kalian kalau mengatakan Al-Qur’an butuh reinterpretasi dan modernisasi. Astaghfirullahal ‘Adzhim. 14 ABAD tidak berubah satu huruf pun masih ada yang berusaha mengotak-atik Al-Qur’an – apa yang golongan kalian inginkan ? Agar Al-Qur’an sesuai makshiyyat yang kalian lakukan ?

    Maaf kalau saya banyak bertanya seperti ini. Saya hanya lulusan baru Madrasah Aliyah Negeri – yang berusia kurang dari 20 tahun. Saya hanya heran, mengapa kebenaran agama (khusushon Islam) diobok2 sama orang Islam sendiri ? Saya dan golongan seperti saya yang tolol DAN golongan Dahlan, Cak Nun, ULDO (Ulil Dongo), Musdah Muliang, Luthfi Assyaukaniesta-agama dls termasuk kalian yang pintar, atau Saya dan golongan seperti saya yang tolol KARENA MENGATAKAN golongan Dahlan, Cak Nun, ULDO (Ulil Dongo), Musdah Muliang, Luthfi Assyaukaniesta-agama, dls termasuk kalian yang pintar ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: